Di tengah cepatnya perubahan sosial dan perkembangan teknologi, mahasiswa dituntut bukan hanya pintar secara akademik, tapi juga peka terhadap isu-isu yang terjadi di sekitarnya. Salah satu soft skill yang sering terlupakan, namun sebenarnya sangat penting, adalah kemampuan mengkritisi kebijakan publik. Bukan untuk jadi “oposan”, tapi untuk jadi warga negara yang sadar, peduli, dan siap berkontribusi.
Kebijakan publik itu bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan mahasiswa. Banyak dari kita mungkin merasa isu kebijakan hanya urusan pemerintah, pejabat, atau ahli kebijakan. Padahal, keputusan-keputusan itu langsung mempengaruhi kehidupan sehari-hari: biaya pendidikan, fasilitas kampus, kesehatan mental, transportasi, bahkan peluang kerja di masa depan. Ketika mahasiswa mampu memahami dan menilai kebijakan publik dengan lebih kritis, itu bukan cuma menunjukkan kecerdasan, tapi juga kesiapan menjadi generasi penerus yang lebih matang dalam berdemokrasi.
Sayangnya, kemampuan ini tidak muncul begitu saja. Banyak mahasiswa yang sebenarnya peduli, tetapi bingung harus mulai dari mana. Apalagi di era digital seperti sekarang, informasi tersebar cepat dan sangat beragam. Mulai dari analisis mendalam sampai opini panas yang belum tentu benar. Di sinilah pentingnya kemampuan memilah informasi, membaca persoalan dari berbagai perspektif, dan tidak terburu-buru mengambil sikap.
Melatih kemampuan kritik kebijakan bisa dimulai dari hal sederhana. Membaca berita dari berbagai sumber, mengikuti diskusi kampus, mendengar pendapat ahli di podcast, atau ikut seminar publik bisa jadi langkah awal yang baik. Dari situ, mahasiswa mulai terbiasa menilai apakah suatu kebijakan benar-benar menyelesaikan masalah, siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan apakah ada langkah yang lebih efektif.
Kritik yang baik bukan soal marah-marah atau menyalahkan. Kritik yang baik adalah yang berbasis data, logis, dan menawarkan sudut pandang baru. Di lingkungan kampus, mahasiswa bisa berlatih lewat menulis opini, berdiskusi secara sehat, atau ikut organisasi yang bergerak di bidang advokasi. Semakin sering terlibat, semakin tajam kemampuan analisis dan komunikasi.
Pada akhirnya, kemampuan mengkritisi kebijakan publik bukan hanya soft skill tambahan, tapi bekal penting untuk menghadapi dunia nyata. Mahasiswa yang peka dan kritis akan lebih siap mengambil keputusan, lebih matang dalam berpendapat, dan lebih kompeten saat nantinya terjun ke dunia kerja atau masyarakat. Mereka adalah calon pemimpin yang tidak hanya mengikuti arus, tetapi mampu melihat masalah secara jernih dan memberi solusi yang lebih bijak.
Jadi, jika selama ini kritik dianggap sebagai sesuatu yang negatif, sudah saatnya mengubah cara pandang itu. Kritik yang sehat justru menunjukkan kepedulian dan kematangan berpikir. Dan bagi mahasiswa, ini adalah salah satu soft skill yang akan berguna seumur hidup.