Di tengah persaingan akademik yang semakin ketat, di mana prestasi dan nilai menjadi tolak ukur utama kesuksesan mahasiswa, terselip fenomena yang mulai mengkhawatirkan: menurunnya empati di lingkungan kampus. Kompetisi yang semakin ketat dan budaya perfeksionisme membuat banyak mahasiswa terjebak dalam lingkaran ambisi pribadi, hingga melupakan nilai kemanusiaan yang seharusnya menjadi ruh pendidikan itu sendiri.
Empati kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain kini seolah menjadi hal yang langka di kalangan mahasiswa. Di tengah jadwal kuliah yang padat, tugas yang menumpuk, dan tekanan untuk selalu berprestasi, kepedulian terhadap sesama perlahan bergeser ke urutan kesekian.
Tekanan Akademik dan Hilangnya Sensitivitas Sosial
Dunia kampus saat ini sangat menekankan capaian akademik: IPK tinggi, sertifikat kompetisi, hingga pengalaman organisasi yang impresif di CV. Namun, fokus berlebihan pada pencapaian ini bisa menumbuhkan sikap individualistis dan menurunkan kepedulian sosial. Mahasiswa lebih sibuk mengejar pengakuan daripada saling mendukung.
Penelitian dari Universitas Negeri Jakarta berjudul “Profil Empati Mahasiswa Sunda (Survei Yang Dilakukan Pada Mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling)” menunjukkan bahwa meski 64,18% mahasiswa memiliki empati tinggi, sebagian besar empati itu hanya muncul dalam konteks sosial yang dekat. Artinya, empati terhadap orang di luar lingkaran pertemanan masih rendah.
Hal serupa ditemukan dalam penelitian di Universitas Tanjungpura. Dari 86 mahasiswa kedokteran, 52,3% memiliki tingkat empati rendah, meskipun profesi yang mereka jalani nantinya menuntut kepedulian tinggi terhadap pasien.
Dari temuan ini, terlihat jelas bahwa tekanan akademik yang tinggi dapat berdampak pada keseimbangan emosional mahasiswa. Mereka cenderung fokus pada performa pribadi dan lupa menumbuhkan kemampuan memahami orang lain padahal kemampuan itu sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual.
Budaya Kompetitif dan Individualisme di Kampus
Kampus sering dianggap sebagai miniatur masyarakat. Jika di dalamnya tumbuh budaya kompetisi yang berlebihan tanpa disertai kolaborasi, maka nilai empati akan semakin terkikis. Mahasiswa mulai melihat teman sebaya sebagai saingan, bukan kawan seperjuangan.
Media sosial juga ikut memperparah keadaan. Di sana, mahasiswa saling memamerkan prestasi dan kegiatan bergengsi, menciptakan tekanan sosial baru untuk “selalu terlihat berhasil”. Akibatnya, banyak yang merasa tidak cukup, bahkan kehilangan motivasi untuk sekedar mendengarkan dan memahami kesulitan orang lain.
Penelitian internasional dari Nature tahun 2025 berjudul “Cultural Differences in Self-Reported Empathy in Indonesia” menyebutkan bahwa konteks budaya dan tekanan sosial memiliki peran besar dalam menurunkan empati afektif mahasiswa terutama di lingkungan pendidikan yang menuntut keunggulan individual.
Dampak Krisis Empati
Krisis empati di dunia kampus bukan sekadar persoalan moral, tapi juga berpengaruh pada kesehatan mental dan kualitas relasi sosial mahasiswa. Studi dari Y. Kotera et al. (2022) menemukan bahwa tekanan akademik yang berat berkorelasi dengan meningkatnya stres, kecemasan, dan menurunnya kesejahteraan emosional mahasiswa Indonesia
Ketika empati menurun, mahasiswa lebih mudah merasa terasing, muncul konflik interpersonal, hingga berkurangnya semangat solidaritas. Kampus yang seharusnya menjadi ruang tumbuh justru berubah menjadi arena persaingan tanpa rasa kemanusiaan.
Mengembalikan Empati di Dunia Akademik
Krisis ini tidak bisa dibiarkan. Empati perlu ditanamkan kembali sebagai bagian dari pendidikan tinggi. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
1. Integrasi nilai empati ke dalam kurikulum.
Mata kuliah berbasis pengalaman sosial atau kegiatan pengabdian masyarakat perlu diperkuat agar mahasiswa belajar berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat.
2, Membangun budaya kolaboratif.
Kampus dapat menciptakan ruang bagi mahasiswa untuk bekerja sama, bukan hanya berkompetisi. Penghargaan tidak selalu harus diberikan pada individu paling unggul, tetapi juga pada kelompok yang solid dan saling mendukung.
3. Ruang refleksi dan kesehatan mental.
Kampus sebaiknya memberi ruang bagi mahasiswa untuk beristirahat, berdialog, dan mengolah perasaan tanpa tekanan performa. Program konseling dan kegiatan berbagi pengalaman bisa menjadi jembatan mengembalikan empati.
4. Teladan dari dosen dan pimpinan kampus.
Empati harus dicontohkan dari atas mulai dari cara dosen memperlakukan mahasiswa hingga bagaimana institusi memperhatikan kesejahteraan warganya.